Belum lama ini, aktivis dan influencer Pinneng dan Gemala mengingatkan tim Treya akan hal yang sering kita lupakan saat kita sedang berlibur ke suatu tempat terkait Hiu Paus. Terkadang, tidak sedikit dari kita yang merusak alam hanya demi kesenangan sesaat dan hasil jepretan foto agar terlihat bagus di sosial media.

Untuk itu isu-isu tentang bagaimana menjaga alam perlu diangkat karena mungkin sebagian dari kita tidak tahu. Treya, selaku marketplace untuk paket wisata Open Trip dan Private trip yang menghubungkan para Traveler dengan Tour Operator lokal ingin membahas bagaimana tata cara berinteraksi dengan salah satu satwa yang menjadi daya tarik wisata Indonesia, yaitu Hiu Paus.

Dilansir dari Kompas, hiu paus merupakan satwa yang secara resmi dilindungi penuh oleh pemerintah berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 18/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Hiu Paus (Rhincodon typus).

Namun, tugas melindungi satwa dan alam di Indonesia bukan hanya merupakan tugas pemerintah, melainkan tugas kita semua sebagai manusia yang tinggal di bumi ini. Hiu Paus itu sendiri terbilang unik dengan ukuran yang dapat mencapai 20 meter saat dewasa, namun sangat bersahabat dan tidak berbahaya bagi manusia.

Hal ini lah yang membuat terkadang interaksi yang dilakukan manusia dengan hiu paus terkadang tidak disadari membahayakan ekosistem hidup dari Hiu Paus itu sendiri.

Banyak traveler yang belum sadar bahwa ada aturan-aturan yang harus dipenuhi sebelum berinteraksi dengan Hiu Paus, antara lain memegang atau berengang dengan memegang sirip ikan Hiu Paus dilarang. Ada 2 hal yang diungkapkan oleh Project Leader Whale Shark Indonesia, Mahardika Rizki kepada Kompas mengapa hal ini dilarang kepada tim Kompas.

“Pertama, kibasan ekor hiu paus cukup kuat dan berisiko tinggi saat menghantam tubuh wisatawan. Kedua, sisik plakoid dari hiu paus bertekstur tajam sehingga bisa melukai tubuh wisatawan,”

Ternyata interaksi langsung yang kita lakukan juga memiliki dampak kepada Hiu Paus itu sendiri.

“Namun kontak dekat ini akan mengubah perilaku hiu paus dengan tidak takut dekat dengan manusia. Terlebih jika diberi makan, mereka akan mendekat. Hal ini akan berbahaya jika ada manusia yang memiliki niat untuk memburu hiu paus,”

Selain itu kita juga tidak tahu apakah sentuhan kita akan membuat satwa tersebut stress atau tidak. Untuk itu Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan lewat Ditjen KP3K – KKP mengeluarkan Pedoman Wisata Hiu Paus:

1. Jumlah perahu/kapal harus dibatasi dan telah memiliki izin resmi dari pengelola.

2. Kecepatan kapal ketika mendekati kelompok hiu paus harus disesuaikan, 10 knot jarak 1 mil dan 2 knot jarak 50 meter.

3. Perahu/kapal berhenti pada jarak minimum 30 meter dari hiu paus.

4. Jumlah maksimum diving/swimming adalah tujuh orang. Enam orang wisatawan dan satu orang pemandu.

5. Pemandu masuk air terlebih dahulu secara perlahan, kemudian diikuti oleh pengunjung.

6. Durasi interaksi diving dan swimming dengan hiu paus maksimal 15 menit untuk tiap grup.

7. Durasi untuk watching hiu paus maksimal 60 menit untuk tiap kapal.

8. Pengunjung tidak diperkenankan menyentuh hiu paus.

9. Pengunjung tidak diperkenankan memberi makan hiu paus.

10. Pengambilan foto hiu paus tanpa bantuan lampu kilat (blitz).

11. Pengunjung harus mengikuti seluruh petunjuk dan arahan pemandu.

Di Indonesia itu sendiri, Hiu Paus dapat ditemui di beberapa titik antara lain Derawan, Talisayan (Berau, Kaltim), Teluk Kwatisore (Taman Nasional Cenderawasih, Papua), serta Botubarani (Bone Belango, Gorontalo).

Tata Cara Berenang Dengan Hiu Paus

Misi Treya tidak hanya memajukan ekonomi daerah para lokal Tour Operator dengan teknologi tapi juga mempromosikan dan menjaga alam Indonesia di saat yang bersamaan. Yuk, share info ini agar teman-teman Kamu jadi tau dan bersama-sama kita menjaga alam kita yang tercinta. Karena, kalau bukan kita, siapa lagi?

February 20, 2018

Leave a Reply