Versi Bahasa Indonesia. “Sebagai pusat dari kebudayaan dan seni pulau Jawa, Yogyakarta (biasa disebut juga sebagai Jogjakarta atau Jogja) adalah sebuah kota dengan kebudayaan dan kebiasaan yang kaya semenjak ratusan tahun yang lalu. Kalau Jakarta merupakan jantung negara Indonesia yang memberikan tenaga kepada sektor ekonomi dan Industri, Yogyakarta dapat dikatakan sebagai jiwa dari negara Indonesia, menjaga kehidupan dalam keselarasan yang seimbang dan harmonis,” sebagaimana dikutip di Tripcanvas. Dan Kami percaya bahwa siapapun akan setuju dengan pernyataan tersebut. Menyebutkan Yogyakarta “penuh perasaan” terkadang tidaklah cukup.

Ada banyak sekali aktifitas yang dapat kamu lakukan di Yogyakarta. Apabila di kota Paris Kamu mengunjungi Menara Eiffel. Pada saat Kamu berada di Jogja, Kamu harus mengunjungi Candi Prambanan – sebuah tempat yang termasuk ke dalam Tempat Kebudayaan Dunia UNESCO yang terdiri dari 240 candi.

Yogyakarta
Yogyakarta

Dimulai dengan melihat matahari terbit di candi borobudur, yang mungkin merupakan candi terbesar dan termegah umat Budha di dunia. Sebagai salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi oleh turis, bukanlah hal yang aneh apabila Yogyakarta menjadi agak padat untuk sebagian waktu, sehingga semakin cepat Kamu sampai akan semakin baik. Berletak di perbukitan, Kamu akan terpesona melihat bagaimana matahari menyiramkan cahayanya dan menembus lubang yang terdapat pada stupa sehingga membentuk bayangan dari dinding candi.

Tempat selanjutnya adalah Istana Air Taman Sari yang merupakan bekas taman bagi kerajaan Yogyakarta di abad ke-18. Bangunan dari taman ini dibangun dengan dari beberapa kolam air di tengah-tengah sebuah halaman yang besar, yang dibangun oleh bangsa Portugis saat zaman kolonisasi singkat mereka di Pulau Jawa sebagai hadiah kepada istri Sultan Hamengkubuwono pertama. Sebuah representasi sempurna kaum bangsawan Yogyakarta pada ratusan tahun yang lalu.

Selanjutnya dari kain batik hingga becak, Jalan Malioboro di Yogya merupakan jawaban kota ini bagi sebagian pasar malam di Asia. Penampakan jalanan yang penuh dengan manusia pada akhir pekan merupakan hal yang biasa karena tempat ini merupakan pusat perdagangan Yogyakarta semenja era kolonial. Ramuan antara musik tradisional gamelan yang terdengar di pengeras suara dan suara para pedagang menjadi sebuah atraksi tersendiri di lokasi tersebut. Banyaknya pilihan kerajinan tangan, perhiasan dan kaos adalah sebagian barang yang dapat Anda beli di sini. Tempat ini merupakan tempat dimana Kamu dapat mengerti mengapa orang-orang menyebutkan barang di pasar itu “murah” karena kemampuan menawar Kamu akan diuji di sini.

Apapun alasan Kamu untuk mengunjungi Yogyakarta – alam-nya, kebudayaan-nya, masyarakat-nya – dapat dikatakan Kamu akan memiliki alasan yang lebih untuk kembali ke Yogyakarta dibandingkan sebelumnya.

Untuk Kamu yang tertarik untuk mengunjungi Raja Ampat, klik di sini.

Atau kalau Kamu tertarik untuk melihat paket Open Trip lain silahkan kunjungi website kami di sini.

Kami juga menulis artikel tentang destinasi populer lain di Indonesia antara lain kawah Ijen, dataran tinggi Dieng, pulau Pahawang, anak gunung Krakatau, gunung Bromo, pulau Komodo, pulau Belitung, Baduy Dalam dan Raja Ampat.

 

The Cultural Hub of Yogyakarta

“The centre of Javanese arts and culture, Yogyakarta (pronounced as ‘Jogjakarta’ or ‘Jogja’ for short) is a city with culture and customs as rich as they were centuries ago. If Jakarta were to be the heart of the nation, powering the economy and the industries, Yogyakarta is the soul, keeping the spirit in perfect balance and harmony,” as said by Tripcanvas. And I don’t think anyone can argue with all that. To call Yogyakarta merely ‘soulful’ is an unjust understatement.

There are endless things to do in Jogja that’s possible for you. When in Paris, you visit the Eiffel Tower. When in Jogja, you visit the Prambanan Temple – a UNESCO World Heritage Site consisting of 240 temples.

yogyakarta
yogyakarta

Start the day by catching the sunrise from the Borobudur temple, the largest and possibly the most magnificent Buddhist temple in the world. Being Indonesia’s most visited tourist attraction, it’s not surprising that it may be crowded at times, so the earlier you get there the better. Situated on a hill, it’s spellbinding how the sun beams through the holes of the stupa and light up the carved reliefs on the temple walls.

Then wander into Taman Sari Water Castle, an 18th century former royal garden to the kingdom of Yogyakarta. This garden chateau is built with a series of pools in the middle of the courtyard, built by the Portugese during their short colonialization in Java as a gift for the wives of Sultan Hamengkubuwono the 1st. It’s truly a perfect representation of Yogyakarta’s royalty a few hundred years ago.

From batik shirts to miniature rickshaws, Malioboro Street is Yogyakarta’s answer to some of Asia’s most famous night markets. An overcrowded street during the weekends is a normal sight as it has been serving as Yogyakarta’s centre of trade since the Colonial era. A concoction of traditional gamelan music can be heard on loudspeakers, dubbed with yells of hawker vendors, the soundtrack of the market is an attraction by itself. A seemingly endless selection of handicrafs, jewelry, and t-shirts are some of the things you can buy here. And the real definition of Indonesian markets is ‘cheap’ and so you should test your bargaining skills here.

Whatever your initial reasons are to visit Yogyakarta – its nature, its culture, its people – it’s safe to say that you’ll leave with an even bigger reason to come back than before.

Take a trip with us to Yogyakarta by clicking here.

For those of you who might be interested in other Open Trip destinations, check out our website here.

We also write other articles regarding popular destination in Indonesia such as Ijen crater, Dieng plateau, Pahawang island, Mount Krakatau, Mount Bromo, Komodo island, Belitung island, Baduy Dalam dan Raja Ampat.

# # # # # # # # # # # # #

September 8, 2017

Leave a Reply